Si Pincang di Balik Jeruji || Cerpen TA
(Sumber gambar: blog.angsamerah.com)
Di sebuah kampung yang dilingkari bukit-bukit hijau, tempat jalan tanah berubah merah setiap kali hujan menumpahkan langitnya, hiduplah seorang perempuan bernama Siti. Orang-orang mengenalnya bahkan sebelum melihat wajahnya. Dari kejauhan, selalu terdengar bunyi langkah yang ganjil. Sebuah irama yang tak pernah benar-benar menyatu dengan langkah manusia lainnya.
Kaki kirinya pincang sejak sebuah kecelakaan ketika ia masih kecil. Tulang yang pernah patah itu memang telah menyatu, tetapi tidak pernah kembali pada bentuk semula. Sejak saat itu, setiap perjalanan menjadi semacam percakapan panjang antara tubuh dan rasa sakit. Tongkat menjadi sahabat yang tak pernah meninggalkannya, menopang tubuhnya ketika dunia terasa terlalu berat untuk ditapaki.
Namun, bukan kaki Siti yang paling sering diperbincangkan orang. Melainkan lidahnya. Ada sesuatu yang ringan pada lidah perempuan itu, tetapi berat pada akibatnya. Ia gemar mengumpulkan cerita dari satu telinga, lalu membawanya ke telinga yang lain. Ia menyebut kebiasaannya sebagai berbagi kabar, seolah-olah setiap cerita adalah daun kecil yang boleh diterbangkan ke mana saja oleh angin.
Padahal,
kabar yang keluar dari mulutnya jarang kembali dalam bentuk semula.
Yang
putih perlahan menjadi kelabu.
Yang
kelabu berubah menjadi hitam.
Dan
yang hitam, ia sirami dengan prasangka hingga menjelma api.
Setiap pagi, ketika kabut masih menggantung di sela bukit dan matahari baru menumpahkan warna keemasan di ujung atap rumah, Siti akan berjalan menuju warung di ujung kampung. Tongkatnya mengetuk tanah dengan irama yang khas.
Di
warung itu, cerita-cerita selalu menemukan tempat untuk tumbuh.
Suatu
pagi, sebuah nama bernama Lela menjadi benih pertama.
Siti
membawa kabar tentang perempuan muda itu yang sering pulang larut dari kota.
Yang sebenarnya sederhana, hanyalah seorang perempuan yang pulang setelah
seharian bekerja. Namun, di tangan Siti, kepulangan itu diberi wajah lain. Ia
membungkusnya dengan dugaan, menyelimutinya dengan prasangka, lalu
melepaskannya sebagai sebuah cerita yang terdengar seperti rahasia.
Tidak
sampai matahari tenggelam, kabar itu telah berpindah dari warung ke
halaman-halaman rumah. Ketika malam turun dan lampu-lampu mulai menyala, cerita
itu telah menyusup ke ruang-ruang keluarga.
Keesokan
harinya, nama Lela menjadi bisikan.
Ia
menangis ketika mendengar apa yang telah beredar tentang dirinya. Ia membawa
kebenaran di kedua tangannya, tetapi kebenaran sering kali datang terlambat ketika
kebohongan telah lebih dahulu menemukan banyak telinga.
Gosip
tidak membutuhkan bukti untuk berjalan.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.
Dan
Siti selalu memiliki cerita.
Hari-hari
berikutnya membawa nama lain.
Raka,
seorang pemuda yang bekerja keras demi keluarganya, menjadi korban berikutnya.
Dari mulut Siti mengalir kabar bahwa pemuda itu telah mencuri uang di tempat
kerjanya. Tidak ada bukti. Tidak pernah ada bukti.
Namun,
kebohongan yang disampaikan dengan suara lirih sering kali terdengar lebih
meyakinkan daripada kebenaran yang berteriak.
Siti
selalu memiliki jalan untuk menyembunyikan tanggung jawabnya di balik
kalimat-kalimat yang tampak ringan. Ia seakan hanya meneruskan sesuatu yang
pernah didengarnya. Seakan-akan telinganya hanyalah tempat singgah, bukan pintu
bagi luka yang akan ditinggalkan oleh kata-kata.
Tetapi
kata-kata tidak pernah benar-benar ringan.
Kabar
itu sampai kepada atasan Raka.
Pekerjaannya
lenyap.
Nama
baiknya retak.
Ibunya jatuh sakit karena malu.
Sementara
itu, Siti tetap berjalan pulang dengan tongkatnya.
Langkahnya
tetap pincang, tetapi wajahnya tidak menunjukkan bahwa ada kehidupan lain yang
baru saja dibuatnya tersandung.
Kemudian
datanglah nama Sari.
Seorang
perempuan muda yang baru saja menikah. Rumah tangganya masih seperti tunas yang
baru muncul dari tanah rapuh,
hijau, dan membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Siti
meniupkan angin ke dalam tunas itu.
Ia
menyebarkan cerita tentang pernikahan Sari yang konon berdiri di atas harta. Ia
menambahkan bayangan tentang rahasia besar yang disimpan sang suami. Cerita itu
bergerak dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, hingga akhirnya mencapai
keluarga sang suami.
Apa
yang semula hanya berupa bisikan berubah menjadi badai.
Rumah
tangga yang baru mulai dibangun diterpa kecurigaan.
Sari
datang membawa mata yang merah oleh air mata dan hati yang penuh luka. Ia
mencari sumber dari segala kehancuran itu, dan menemukan Siti di tempat yang
selama ini menjadi panggung kecil bagi lidahnya.
Namun,
seperti biasa, Siti berlindung di balik bayang-bayang ketidaktahuan. Ia
menganggap dirinya hanya pembawa kabar, bukan pencipta luka.
Sari
membawa kebenaran.
Siti
membawa pembelaan.
Dan
di antara keduanya, sebuah persahabatan manusia dengan nurani seakan telah lama
mati.
Peristiwa
itu menjadi batas.
Sari
melaporkan Siti kepada pihak berwenang setelah menyadari bahwa cerita yang
disebarkan bukan lagi sekadar gosip, melainkan tuduhan yang telah merusak nama
baik dan kehidupan seseorang. Beberapa orang lain kemudian ikut melapor,
membawa kisah masing-masing seperti daun-daun kering yang akhirnya dikumpulkan
angin di satu sudut halaman.
Untuk
pertama kalinya, Siti merasa takut.
Suara
langkahnya menjadi lebih berat.
Tongkat
yang dahulu terasa sebagai penopang kini seakan membawa seluruh beban dari
kesalahan yang selama ini tak pernah ingin dipikulnya.
Pada
suatu pagi, ketika matahari baru saja muncul dari balik bukit, beberapa petugas
datang ke rumahnya.
Sejak
hari itu, hidup Siti berubah arah.
Tangannya
diborgol.
Tubuhnya
dibawa pergi.
Dan
sebuah pintu tertutup di belakangnya
bukan
karena angin, bukan karena malam, melainkan karena hukum yang akhirnya datang
menagih sesuatu yang selama ini dianggapnya sepele.
Jeruji
menyambutnya dengan dingin.
Penjara
menjadi dunia baru bagi perempuan itu.
Dunia
yang tidak mengenal warung, halaman rumah, atau telinga-telinga yang dahulu
dengan sabar menampung setiap ceritanya.
Pada
hari-hari pertama, Siti masih membawa kesombongan yang sama. Ia merasa dirinya
tidak bersalah. Ia menganggap semua yang terjadi hanyalah akibat dari kegemaran
berbicara yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan.
Namun,
penjara adalah tempat yang perlahan mengikis suara-suara dalam diri manusia.
Hari
pertama berlalu.
Hari
kedua menyusul.
Hari
ketiga datang dengan sunyi yang lebih panjang.
Tak
ada yang ingin mendengarkan cerita Siti.
Di
dalam sel, ia bertemu perempuan-perempuan dengan masa lalu masing-masing. Ada
yang lebih banyak menatap lantai daripada manusia. Ada yang menyimpan tangis di
balik kedua telapak tangan. Ada yang setiap pagi berdiri di dekat jendela
kecil, memandangi sepotong langit yang hanya tampak sebesar telapak tangan.
Di
antara mereka, Siti menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami.
Kesepian.
Dahulu
ia begitu senang mengetahui kehidupan orang lain.
Kini,
tidak seorang pun tertarik mengetahui kehidupannya.
Hari-hari
berjalan seperti air yang menetes dari batu.
Perlahan.
Pasti.
Tanpa
dapat dihentikan.
Dinding
penjara mulai terasa seperti kulit kedua. Udara lembap melekat pada tubuh. Bau
keringat, selokan, dan ruang yang terlalu lama tertutup bercampur menjadi satu.
Malam datang tanpa membawa kelegaan.
Tubuh
Siti pun mulai menyerah.
Kaki
kirinya semakin sering berdenyut. Nyeri menjalar dari tulang yang pernah patah
hingga ke seluruh tubuh. Batuk mulai menjadi teman baru. Nafsu makan menghilang
sedikit demi sedikit.
Bunyi
langkah yang dahulu hanya menandai kepincangan kakinya kini terdengar seperti
ratapan. Di tengah kesunyian itu, ingatan
tentang kampung mulai datang satu demi satu.
Warung
di ujung jalan.
Aroma
tanah setelah hujan.
Suara
burung pada pagi hari.
Bukit-bukit
hijau yang dulu terlihat begitu biasa.
Dan
orang-orang yang dahulu datang kepadanya membawa cerita.
Semuanya
masih ada di suatu tempat.
Hanya
Siti yang tidak lagi berada di sana.
Pada
suatu malam, hujan turun dengan deras.
Air
merembes melalui celah-celah atap dan jatuh ke lantai sel.
Bunyinya
seperti jam yang menghitung sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Siti
duduk seorang diri di sudut ruangan.
Ia
memandangi kedua tangannya.
Tangan
yang dahulu begitu ringan menunjuk kesalahan orang lain.
Tangan
yang dahulu sibuk membawa cerita dari satu rumah ke rumah berikutnya.
Lalu
pandangannya turun kepada bibirnya sendiri.
Bibir
yang pernah menyebut banyak nama.
Bibir
yang pernah membuat kebohongan terdengar seperti kebenaran.
Untuk
pertama kalinya, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Di
sana, dalam dingin dan kesunyian penjara, kesadaran datang bukan seperti petir,
melainkan seperti hujan—perlahan, tetapi membasahi seluruh tubuh.
Siti
akhirnya memahami bahwa kata-kata tidak memiliki kaki, tetapi mampu berjalan
lebih jauh daripada manusia.
Kata-kata
tidak memiliki tangan, tetapi mampu menampar.
Kata-kata
tidak memiliki pisau, tetapi mampu mengoyak harga diri.
Dan
ketika sebuah kata telah meninggalkan mulut, ia tidak lagi berada dalam
kekuasaan orang yang mengucapkannya.
Ia
menjadi milik dunia.
Ia
dapat berpindah dari telinga ke telinga, dari rumah ke rumah, dari satu hati
menuju hati lainnya, sambil membawa luka yang semakin dalam.
Hari-hari
berikutnya membuat tubuh Siti semakin rapuh.
Wajahnya
memucat.
Tubuhnya
kehilangan kekuatan.
Batuknya
semakin sering terdengar di antara dinding-dinding sel.
Kebersihan
yang buruk, sakit yang tak tertangani dengan baik, dan hari-hari panjang yang
berjalan tanpa belas kasihan membuat tubuhnya perlahan menjadi bayangan dari
perempuan yang dahulu begitu ramai berbicara.
Perempuan-perempuan
lain mulai menjaga jarak.
Siti
semakin sering sendirian.
Pada
suatu sore, seorang petugas datang membawa kabar bahwa masa hukumannya masih
panjang.
Siti
hanya menundukkan kepala.
Untuk
pertama kalinya, ia tidak memiliki kata-kata untuk membela dirinya.
Yang
tersisa hanyalah sebuah pertanyaan yang menggantung di dalam dada: apakah dunia
masih menyediakan ruang bagi seseorang yang telah meninggalkan begitu banyak
luka?
Pertanyaan
itu tidak menemukan jawaban.
Sebab
tidak semua luka sembuh hanya karena waktu berlalu.
Tidak
semua nama baik dapat dipulihkan setelah dihancurkan.
Tidak
semua permintaan maaf mampu menghapus jejak yang telah tertanam dalam ingatan
manusia.
Malam
kembali turun.
Dari
jendela kecil di balik jeruji, Siti memandangi sepotong bulan.
Bulan
itu tampak dekat.
Namun,
semakin lama dipandang, semakin terasa jauhnya.
Ia
teringat pada kakinya.
Pada
kepincangan yang dahulu begitu ia benci.
Pada
langkah yang sejak kecil membuatnya berbeda.
Dulu
ia mengira kaki itulah yang membuat hidupnya pincang.
Kini
ia tahu, ada kepincangan lain yang jauh lebih dalam.
Kakinya
hanya membuat langkahnya lambat.
Tetapi
lidahnya telah membuat kehidupan orang lain tersandung.
Air
mata mengalir perlahan di pipinya.
Ada
penyesalan yang datang terlambat, seperti matahari yang baru muncul ketika
malam hampir selesai.
Siti
ingin kembali ke masa ketika semua masih bisa diperbaiki.
Ia
ingin menarik kembali setiap kata yang pernah dilepaskan.
Ia
ingin menghapus nama-nama yang pernah ia seret ke dalam lumpur cerita.
Namun
waktu tidak pernah berjalan mundur.
Pagi
datang.
Cahaya
menyusup melalui celah jeruji, membentuk garis-garis tipis di lantai.
Siti
membuka mata dengan tubuh yang semakin berat.
Batuk
mengguncang dadanya.
Sekali.
Dua
kali.
Kemudian
sunyi.
Di
luar sana, dunia tetap berjalan seperti biasa.
Orang-orang
pergi bekerja.
Anak-anak
berangkat ke sekolah.
Pedagang
membuka warung.
Burung-burung
terbang di atas atap penjara seolah tidak pernah mengenal dinding dan jeruji.
Tidak
ada yang tahu bahwa di balik salah satu pintu besi itu, seorang perempuan
sedang membayar harga dari kata-kata yang dahulu dianggapnya ringan.
Namun
kisah manusia tidak pernah benar-benar mati bersama pemiliknya.
Di
kampung itu, nama Siti akhirnya berubah menjadi sebuah peringatan.
Setiap
kali seseorang hendak membawa kabar tentang kehidupan orang lain, orang-orang
tua akan mengingatkan tentang perempuan yang dahulu gemar menaburkan cerita
seperti benih, tanpa pernah memikirkan pohon apa yang akan tumbuh darinya.
Mereka
tahu bahwa gosip mungkin terasa kecil ketika keluar dari mulut.
Namun,
ketika sampai kepada telinga orang lain, ia dapat menjelma badai.
Dan
di balik jeruji yang dingin, Siti akhirnya memahami bahwa kebebasan manusia
tidak hanya dapat direnggut oleh langkah yang salah arah.
Ia
juga dapat direnggut oleh lidah yang tidak pernah mengenal batas.
Di
lorong penjara, suara langkah itu masih terdengar.
Pelan.
Pincang.
Sendirian.
Seperti
detak jam tua yang menolak berhenti, mengingatkan siapa pun yang mendengarnya
bahwa setiap kata memiliki perjalanan, setiap ucapan meninggalkan jejak, dan
setiap lidah menyimpan kuasa untuk membangun atau meruntuhkan kehidupan.
Sebab
ada jeruji yang terbuat dari besi.
Dan
ada pula jeruji yang dibangun dari kata-kata.
Yang
pertama dapat mengurung tubuh.
Yang
kedua dapat mengurung kehidupan seseorang jauh lebih lama.
Maka,
sebelum sebuah kata meninggalkan bibir, biarlah hati lebih dahulu menjadi
penjaganya.
Sebab
ketika kata telah terbang, tak ada tangan yang cukup panjang untuk menangkapnya
kembali. Dan di antara sunyi panjang lorong
penjara, bunyi itu terus berjalan
sebuah
langkah yang pincang, sebuah penyesalan yang terlambat, dan sebuah pelajaran
yang barangkali akan selalu tinggal.

Post a Comment for "Si Pincang di Balik Jeruji || Cerpen TA "