Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengaruh Devosi kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario terhadap Kehidupan Rohani Umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit - Nerapost

Pengaruh Devosi kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario terhadap Kehidupan Rohani Umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit - Nerapost

 (Sumber gambar: indonesia.ucanews.com)

Oleh: Admin

I.         PENDAHULUAN

Doa Rosario merupakan salah satu bentuk devosi yang paling dikenal, paling tua, dan paling dekat dengan identitas spiritual Gereja Katolik. Selama berabad-abad, doa ini menjadi sarana meditatif yang membantu umat beriman merenungkan misteri keselamatan melalui kehidupan Yesus Kristus dan Bunda Maria. Dalam tradisi Gereja Katolik, Rosario dipandang bukan sekadar pengulangan doa verbal, tetapi suatu perjalanan rohani yang mengantar umat masuk ke dalam kedalaman iman.[1] Doa ini memadukan unsur kontemplasi, refleksi, dan penghayatan iman yang konkret dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, praktik doa Rosario secara pribadi maupun bersama–sama diyakini memiliki dampak besar terhadap pembentukan iman serta perkembangan rohani umat.[2]

Dalam konteks Gereja Katolik di Indonesia, devosi kepada Bunda Maria memiliki tempat istimewa dalam kehidupan umat. Hampir setiap komunitas basis, lingkungan, ataupun kelompok kategorial memiliki tradisi berdoa Rosario, terutama pada bulan Mei dan Oktober yang dikenal sebagai Bulan Rosario.[3] Tradisi ini telah menjadi bagian penting dalam ritme kehidupan iman umat Katolik Indonesia, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan, maupun paroki. Doa Rosario tidak hanya dimaknai sebagai devosi, tetapi sering juga menjadi sarana pemersatu keluarga, penggerak komunitas, sekaligus bentuk kesetiaan umat kepada warisan spiritual Gereja.[4]

Demikian pula halnya di Kelompok Umat Basis (KUB) Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, sebuah KUB yang memiliki karakteristik, sosial dan budaya yang khas. KUB ini terdiri dari umat dengan latar belakang sosial yang beragam namun memiliki kekuatan dalam kehidupan komunitas dan tradisi Gerejawi. Praktik doa Rosario di paroki ini tidak hanya dilaksanakan di gereja, tetapi juga secara luas dilaksanakan dalam keluarga, lingkungan, dan kelompok basis gerejani lainnya. Banyak umat yang memandang doa Rosario sebagai sarana penting untuk menguatkan iman, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperkokoh hubungan antarumat.[5]

Keterlibatan umat dalam doa Rosario di KUB Bunda Allah terlihat dalam berbagai kegiatan devosional yang diselenggarakan oleh paroki, lingkungan, maupun keluarga. Kegiatan-kegiatan seperti rosario keliling, doa Rosario bersama umat lingkungan, doa Rosario yang dilakukan di rumah keluarga secara bergilir, hingga doa Rosario dalam kegiatan kategorial seperti OMK, Legio Maria, atau KUB menunjukkan adanya dinamika dan antusiasme umat dalam menghidupi devosi ini. Namun, intensitas keterlibatan tersebut tidak selalu sama dalam setiap kelompok umat. Ada umat yang sangat aktif, ada yang terlibat hanya pada momen tertentu, dan ada pula yang belum memiliki kedekatan yang kuat dengan doa Rosario.[6]

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana keterlibatan umat dalam doa Rosario berperan dalam membentuk dan mengembangkan kehidupan rohani mereka? Apakah doa Rosario benar-benar berdampak pada pendalaman iman umat? Bagaimana umat memaknai doa ini, dan faktor apa saja yang memengaruhi keterlibatan mereka? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar bagi penelitian ini, yang berfokus untuk memahami dinamika keterlibatan umat dalam doa Rosario serta implikasinya terhadap kehidupan rohani umat KUB Bunda Allah.

Kehidupan rohani umat dapat dilihat dari berbagai indikator, seperti kedisiplinan berdoa, partisipasi dalam Sakramen, pemahaman iman, sikap hidup kristiani, dan hubungan personal dengan Tuhan. Doa Rosario, sebagai salah satu sarana pembinaan iman, diyakini berperan dalam membantu umat menumbuhkan kualitas rohani tersebut. Namun, pengaruh tersebut bisa berbeda pada setiap orang tergantung bagaimana mereka menghayati doa Rosario itu sendiri. Ada umat yang merasakan kedamaian, ketenangan batin, dan kedekatan dengan Tuhan melalui doa Rosario.[7] Ada pula yang merasa bahwa doa ini membantu mereka merenungkan perjalanan hidup mereka, meneguhkan mereka dalam kesulitan, serta memberikan kekuatan dalam menghadapi pergumulan hidup.[8] Sebaliknya, ada juga umat yang kurang memahami makna spiritual Rosario sehingga keikutsertaan mereka dalam doa ini masih bersifat formalitas. Dengan kata lain, keterlibatan umat dalam doa Rosario tidak hanya dapat dilihat dari segi kehadiran fisik dalam kegiatan doa, tetapi juga dari penghayatan batin, motivasi, dan konsistensi dalam praktik devosional tersebut.[9] Untuk itu, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Devosi kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario terhadap Kehidupan Rohani Umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit.

1.1 Rumusan Masalah

       Berdasarkan latang belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yakni bagaimana Pengaruh Devosi kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario terhadap Kehidupan Rohani Umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit.? Adapun masalah turunannya yakni: Pertama, bagaimana tingkat keterlibatan umat dalam doa rosario di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit? Kedua, Bagaimana pengaruh keterlibatan umat dalam doa rosario terhadap kehidupan rohani mereka di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit? Ketiga, Apakah ada hubungan antara keterlibatan umat dalam rosario dan peningkatan umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit?

1.2    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: pertama, untuk menilai tingkat keterlibatan umat dalam doa rosario di KUB Bunda Allah, baik secara pribadi maupun bersama dalam komunitas gereja. Kedua, untuk Menganalisis pengaruh keterlibatan umat dalam doa Rosario terhadap kehidupan rohani mereka, termasuk bagaimana doa Rosario berkontribusi terhadap pertumbuhan iman, penguatan spiritualitas, dan kedalaman hubungan pribadi dengan Tuhan umat KUB Bunda Allah. Ketiga, untuk Mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan umat dalam doa Rosario dan peningkatan iman, termasuk pengaruhnya terhadap kebiasaan berdoa, partisipasi dalam sakramen, dan perubahan sikap hidup rohani umat KUB Bunda Allah.

1.3    Batasan Penelitian

Adapun batasan dalam penelitian ini yakni: pertama, lokasi penelitian. Penelitian ini difokuskan pada umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, yang memiliki karakteristik sosial, budaya, dan spiritual tertentu yang akan dianalisis dalam konteks tersebut. Penelitian ini tidak akan mencakup paroki-paroki lain atau wilayah luar Paroki Wairpelit.

Kedua, sampel penelitian. Penelitian ini akan melibatkan umat yang aktif berpartisipasi dalam doa Rosario di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, baik dalam bentuk pertemuan kelompok doa maupun doa Rosario pribadi. Sampel akan dipilih secara purposive, yaitu dengan memilih individu atau kelompok yang dianggap representatif dari berbagai segmen umat di paroki tersebut.

ketiga, fokus utama. Penelitian ini akan memfokuskan pada keterlibatan umat dalam doa Rosario dan implikasinya terhadap kehidupan rohani umat. Penelitian ini tidak akan membahas aspek-aspek lain dari kehidupan gereja seperti pendidikan agama, kegiatan sosial, atau kegiatan liturgi lainnya, meskipun ini dapat berinteraksi dengan praktik doa Rosario.

Keempat, kerangka Waktu. Penelitian ini akan dilakukan dalam rentang waktu tertentu, dengan batasan bahwa data yang dikumpulkan akan mencakup pengalaman umat selama setahun terakhir. Penelitian ini tidak akan menyelidiki perubahan jangka panjang dalam kehidupan rohani umat, melainkan akan berfokus pada dampak yang terjadi dalam waktu dekat setelah keterlibatan dalam doa Rosario.

II.      TINJAUAN PUSTAKA

Doa Rosario merupakan doa yang dicinatai oleh banyak orang kudus. Doa ini dengan mudah menyatu dengan perjalanan rohani kehidupan Kristen. Rosario, meskipun jelas berkarakter Maria, pada hakikatnya adalah doa Kristosentris. Dalam kesederhanaan unsur-unsurnya, doa ini memiliki seluruh kedalaman pesan Injil, yang dapat dikatakan sebagai sebuah kompendium. Rosario merupakan gema doa Maria, Magnificat abadinya untuk karya Inkarnasi penebusan yang dimulai dalam rahim perawannya. Dengan Rosario, umat Kristiani duduk di sekolah Maria dan dituntun untuk merenungkan keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Melalui Rosario, umat beriman menerima rahmat yang berlimpah, seolah-olah langsung dari tangan Bunda Penebus.[10] 

Paus Leo XIII yang pada tanggal 1 September 1883 mengumumkan Ensiklik Supremi Apostolatus Officio, sebuah dokumen yang sangat berharga yang mengusulkan Rosario sebagai senjata rohani yang efektif melawan kejahatan yang menimpa masyarakat. Berbagai dokumen yang telah dikeluarkan oleh Gereja secara khusus berbicara tentang Bunda Maria antara lain adalah Marialis Cultus, Rosarium Virginis Mariae, dan Maria Bunda Penebus. Gereja mengulas secara mendalam mengenai Bunda Maria dalam aneka dokumen tersebut. Gereja bermaksud agar umat tidak masuk dalam praktik penghormatan secara ekstremisme maksimalis dan minimalis.[11]

Maksimalis berarti ada kecenderungan untuk melebih-lebihkan atau membesar-besarkan, dan menambah sebanyak mungkin Devosi dan kegiatan kepada Bunda Maria. Minimalis berarti ada kecenderungan untuk mengurangi sedikit mungkin penghormatan kepada Bunda Maria atau bahkan menghapuskan ungkapan Devosi kepada Bunda Maria. Oleh karena itu, dalam Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII dan terutama Paus Paulus VI, yang dalam Anjuran Apostoliknya Marialis Cultus menekankan, dalam semangat Konsili Vatikan II, karakter doa Rosario dan inspirasinya yang berpusat pada Kristus.[12]

Penelitian terdahulu juga mengkaji tentang devosi kepada Bunda Maria Melalui doa Rosario. Dalam kajian Johannes Sohirimon Lumbanbatu dan Lusiana Sihaloho yang berjudul “Devosi Kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario sebagai Salah Satu Bentuk Pendalaman Iman Para Ibu Katolik” bahwa devosi kepada Bunda Maria adalah penghormatan yang tulus dan mendalam yang disertai dengan penyerahan diri kepada-Nya. Devosi ini dalam bentuk doa Rosario, yang menjadi sarana pendalaman iman, khususnya bagi para ibu. Melalui doa bersama dengan Bunda Maria, para ibu berusaha meneladani harapan dan kasih-Nya yang sempurna, menjadi teladan bagi semua umat beriman.[13] Sedangkan dalam kajian Tasyiana, Agustinus Supriyadi melihat manfaat dari kegiatan doa rosario bagi perkembangan iman. Berdasarkan  kajiannya bahwa Manfaat ini didasari oleh pelbagai nilai rohani yang terkandung dalam doa Rosario, seperti kesabaran, kerelaan berkorban, kesetiaan, kesederhanaan, penyerahan diri, ketekunan, keberanian, kerendahan hati, dan ketaatan.[14]

III. KERANGKA TEORITIS

3.1Teologi Liturgi

Teologi liturgi merupakan cabang teologi yang menelaah makna, bentuk, serta dinamika tindakan peribadatan Gereja sebagai ungkapan iman umat berbalik kepada Allah.[15] Dalam konteks penelitian mengenai keterlibatan umat dalam doa Rosario dan implikasinya terhadap kehidupan rohani umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, teologi liturgi menyediakan fondasi konseptual yang kuat melalui tiga pilar utama: misteri paschal, sakramentologi, dan eklesiologi. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana praktik devosi seperti Doa Rosario bukan sekadar rutinitas rohani, tetapi juga bagian integral dari kehidupan liturgis Gereja.

3.1.1 Misteri Paschale sebagai Dasar Devosi dan Liturgi Gereja

Misteri paschale atau misteri paskah yakni sengsara, wafat, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus merupakan pusat iman Kristen dan inti dari seluruh liturgi Gereja. Dalam teologi liturgi, setiap bentuk doa Kristiani mengarah pada permenungan dan partisipasi dalam misteri keselamatan ini.[16] Doa Rosario, dengan meditasi atas peristiwa-peristiwa kehidupan Kristus bersama Maria, menjadi sebuah jalan untuk masuk lebih dalam ke misteri paschal. Melalui peristiwa gembira, sedih, mulia, dan terang, umat dibimbing untuk menapaki kembali karya keselamatan Allah dalam sejarah. Bagi umat KUB Bunda Allah, keterlibatan dalam Doa Rosario dapat membantu memperdalam pemahaman iman dan menghayati karya penyelamatan Kristus secara personal maupun komunal. Dengan demikian, misteri paschale menjadi dasar teologis yang menjelaskan bagaimana Rosario berfungsi sebagai sarana pembaruan rohani dan transformasi hidup.

3.1.2 Sakramentologi Penunjang Hidup Sakramental

Sakramentologi menyoroti sakramen sebagai tanda dan sarana keselamatan yang dihadirkan Kristus melalui Gereja. Meskipun Doa Rosario bukan sakramen, devosi ini memiliki relasi erat dengan hidup sakramental Gereja. Rosario mempersiapkan hati umat untuk menerima rahmat sakramen secara lebih layak dan efektif, karena devosi membantu umat memasuki suasana batin doa, pertobatan, dan kontemplasi.[17] Dengan memperhatikan pengalaman umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, devosi Rosario yang dilakukan secara teratur dapat menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah, memperkuat penghayatan Ekaristi sebagai puncak liturgi, dan mendukung hidup rohani sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa devosi bukan pengganti sakramen, melainkan penunjang dan perpanjangan spiritualitas liturgis Gereja yang mengalir dari misteri paschal.

3.1.3 Eklesiologi sebagai Komunitas Pendoa

Eklesiologi, sebagai refleksi teologis mengenai hakikat Gereja, menegaskan bahwa Gereja adalah communio, persekutuan umat beriman yang dipersatukan oleh Roh Kudus. Kegiatan Doa Rosario yang dijalankan secara bersama-sama dalam komunitas paroki menjadi ekspresi konkret eklesiologi tersebut.[18] Keterlibatan aktif umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit dalam Doa Rosario menunjukkan bahwa mereka mengambil bagian dalam hidup Gereja sebagai tubuh Kristus. Doa bersama menumbuhkan solidaritas, membangun persaudaraan, dan memperkuat identitas iman bersama. Selain itu, devosi ini membantu umat mengalami Gereja sebagai tempat pertumbuhan rohani, bukan hanya institusi, tetapi komunitas yang saling meneguhkan dan membimbing.

3.2 Pendekatan Interdisipliner

Penelitian mengenai keterlibatan umat dalam Doa Rosario tidak hanya dapat dilihat dari perspektif teologi semata, tetapi perlu ditopang oleh pendekatan interdisipliner agar pemahaman terhadap fenomena religius ini menjadi lebih komprehensif. Pendekatan interdisipliner memungkinkan peneliti melihat Doa Rosario sebagai suatu praktik keagamaan yang kaya makna, mengandung simbol, dipraktikkan dalam konteks budaya tertentu, dan dipengaruhi oleh dinamika sejarah serta relasi kuasa.[19] Empat pendekatan yang dipakai dalam kerangka teoritis ini antropologi ritual, semiotika, fenomenologi, dan postkolonial yang memberikan landasan metodologis sekaligus konseptual untuk membaca Doa Rosario sebagai ritus devosional umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit dan dampaknya bagi kehidupan rohani mereka.

3.2.1        Antropologi Ritual

Antropologi ritual memandang ritus keagamaan sebagai tindakan sosial yang memiliki fungsi simbolik, struktural, dan kultural dalam kehidupan manusia. Menurut Victor Turner, ritual berfungsi sebagai sarana pembentukan identitas, pemersatu komunitas, serta ruang terjadinya transformasi spiritual. Dalam kerangka ini, Doa Rosario dapat dipahami sebagai ritus repetitif yang memiliki pola, struktur, dan nilai-nilai tertentu yang diinternalisasi oleh umat.[20] Bagi umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, praktik Doa Rosario sering dilakukan di lingkungan basis, keluarga, atau kapela pada bulan-bulan devosi tertentu.

Luluk Arianti, Maolinda Saqila dan Anindya Ika Yulia mengungkapkan bahwa berdasarkan perspektif antropologi ritual, keterlibatan umat ini menghasilkan tiga fungsi utama: pertama, fungsi komunal. Doa Rosario membangun kesadaran kebersamaan (communitas) dan solidaritas sosial yang menjunjung nilai gotong-royong dalam kehidupan bersama. Kedua, fungsi identitas. Melalui ritus yang diulang, umat membentuk identitas religiusnya sebagai bagian dari Gereja Katolik yang menghormati Maria. Ketiga, fungsi transformasi. Proses repetisi doa dan meditasi atas peristiwa-peristiwa hidup Kristus menuntun umat pada perubahan batin, sehingga memperkuat spiritualitas mereka. Dengan demikian, antropologi ritual membantu memahami bahwa partisipasi umat dalam Doa Rosario bukan sekadar tindakan pribadi, tetapi bagian dari sistem budaya dan dinamika komunal yang berpengaruh pada kehidupan rohani.[21]

3.2.2        Semiotika

Semiotika melihat praktik keagamaan sebagai sistem tanda yang menyampaikan makna tertentu kepada para pelaku. Doa Rosario sebagai devosi Maria yang sangat kaya simbol, baik dalam bentuk fisik (tasbih rosario) maupun verbal (doa-doa dan misteri-misteri yang direnungkan).[22] Dari sisi semiotika, terdapat tiga lapisan tanda dalam Doa Rosario:

pertama, ikon dan simbol visual.[23] Butir-butir Rosario berfungsi sebagai ikon dan simbol yang memandu ritme doa. Bagi umat Wairpelit, Rosario bukan hanya alat doa, tetapi juga tanda kehadiran Maria dalam hidup sehari-hari.

Kedua, simbol verbal. Doa “Salam Maria”, “Bapa Kami”, dan renungan atas misteri adalah teks-teks yang memuat makna teologis. Ketika umat melafalkannya, mereka memasuki ruang komunikasi simbolik antara manusia dan ilahi.

Ketiga, makna konotatif dan budaya. Dalam hal ini, menekankan bahwa tanda memiliki lapisan makna kedua berupa mitos atau nilai budaya. Doa Rosario di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, misalnya, dapat bermakna sebagai, simbol perlindungan bagi keluarga, tanda kesalehan tradisional Katolik, simbol kehadiran Maria dalam kultur lokal yang menghormati figur ibu. Doa Rosario mengandung pesan simbolik yang mempengaruhi cara umat memahami iman dan spiritualitasnya.

3.2.3        Fenomenologi

Pendekatan fenomenologi, yang dikembangkan oleh Edmund Husserl dan dikembangkan dalam ranah religius oleh Mircea Eliade, fokus pada pengalaman subjektif pelaku ritus.[24] Dalam konteks ini, penelitian tidak hanya menelaah Doa Rosario sebagai tindakan lahiriah, tetapi juga pengalaman batin umat saat melakukannya. Fenomenologi melihat bahwa pertama, doa rosario menciptakan ruang sakral, yakni ruang batin di mana umat merasakan pengalaman kedekatan dengan Allah dan Bunda Maria. Kedua, pengulangan doa memberikan struktur kesadaran, membawa umat pada keadaan kontemplatif yang memungkinkan refleksi diri. Ketiga, setiap umat memiliki intensionalitas, atau arah kesadaran tertentu, seperti memohon perlindungan, mencari kedamaian, atau memperdalam iman.

Dalam konteks umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, pengalaman fenomenologis ini tampak dalam kesaksian umat mengenai perasaan damai, penghiburan, atau kekuatan baru yang mereka rasakan setelah mendaraskan Rosario. Pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk menggali aspek spiritualitas secara lebih mendalam, yaitu bagaimana Doa Rosario memengaruhi transformasi batin dan kehidupan rohani umat.

3.2.4        Postkolonial.

Pendekatan postkolonial digunakan untuk memahami bagaimana praktik keagamaan, termasuk Doa Rosario, terbentuk dalam konteks sejarah kolonial dan relasi kekuasaan antara Gereja Barat dan komunitas lokal. Devosi kepada Maria di Indonesia banyak dibawa oleh misionaris Eropa pada masa kolonial. Namun, dalam perjalanan waktu, devosi ini mengalami proses inkulturasi sehingga menjadi bagian dari identitas religius komunitas lokal.[25] Dalam konteks umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, beberapa hal penting dapat dikaji:

pertama, transformasi devosi. Rosario yang awalnya bagian dari spiritualitas Eropa, kini telah menjadi praktik iman yang hidup dalam budaya lokal Wairpelit. Umat memaknai Rosario sesuai pengalaman dan kebutuhan mereka, bukan sekadar meniru tradisi kolonial.

Kedua, resistensi simbolik. Doa Rosario dapat dipahami sebagai ruang resistensi terhadap narasi kolonial karena umat lokal menafsirkan kembali makna simbol-simbol Katolik melalui perspektif budaya mereka sendiri.

Ketiga, inkulturasi spiritualitas. Dalam beberapa konteks lokal, pelaksanaan Doa Rosario diwarnai oleh adat, bahasa daerah, atau praktik komunal yang memperlihatkan interaksi kreatif antara iman Katolik dan budaya setempat.

IV.   METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan memahami pengalaman, makna, dan dinamika spiritual umat dalam praktik Doa Rosario secara mendalam, bukan mengukur fenomena secara numerik. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti menangkap realitas religius sebagaimana dihayati oleh umat dalam konteks budaya dan kehidupan pastoral Paroki Wairpelit.

4.1 Lokasi dan Partisipan Penelitian

Penelitian dilakukan di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, dengan partisipan terdiri dari umat yang aktif mengikuti doa Rosario, ketua lingkungan, anggota kelompok kategorial, dan pastor paroki. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yakni mereka yang dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan signifikan dalam devosi Rosario. Jumlah informan disesuaikan dengan kebutuhan hingga mencapai dan mendapatkan data yang valid.

4.2  Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: pertama, wawancara mendalam untuk menggali pengalaman pribadi umat tentang makna doa Rosario dan pengaruhnya terhadap kehidupan rohani. Kedua, observasi partisipatif, di mana peneliti mengikuti kegiatan Doa Rosario untuk memahami dinamika ritus, pola keterlibatan, serta interaksi umat. Ketiga, studi dokumentasi berupa jurnal, buku, dan artikel internet yang relevan dengan tema ini.

4.3 Teknik Analisis Data

Analisis dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi: pertama, reduksi data, kedua,  penyajian data, ketiga, penarikan kesimpulan.[26] Proses ini memungkinkan peneliti mengorganisasi data, menemukan pola, dan menginterpretasikan makna keterlibatan umat dalam Doa Rosario.

4.4  Etika Penelitian

Penelitian ini lakukan setelah peneliti melakukan pertemuan dengan ketua KUB untuk meminta izin melakukan penelitian. Setelah mendapat izinan dari ketua KUB, peneliti baru menghubungi beberapa narasumber kunci untuk melakukan wawancara.

V.      HASIL DAN TEMUAN LAPANGAN

Devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario merupakan salah satu praktik spiritual yang paling mengakar dalam kehidupan umat Katolik, termasuk umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit. Menurut Pino Jebarus bahwa kehidupan menggereja yang berakar pada kesederhanaan, kebersamaan, dan spiritualitas keluarga, rosario menjadi wujud kesetiaan umat dalam memelihara hubungan dengan Allah melalui perantaraan Maria. Keterlibatan umat dalam devosi ini tidak hanya tampak dalam rutinitas berdoa, tetapi juga dalam simbol yang digunakan, bahasa doa yang dihayati, partisipasi komunitas, serta dalam kesadaran akan konteks sosial-budaya yang melingkupinya.[27] Semua unsur ini berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kehidupan rohani umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit.

5.1 Simbol dalam Devosi Rosario

Simbol memegang peran penting dalam devosi rosario. Butir-butir rosario, salib kecil yang menggantung, patung Bunda Maria, lilin, dan Gua Maria menjadi sarana visual dan ritual yang mengantar umat memasuki pengalaman iman yang mendalam. Di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, simbol-simbol ini bukan sekadar atribut liturgis, melainkan bagian dari kehidupan spiritual umat sehari-hari. Banyak keluarga menyimpan rosario di rumah sebagai tanda perlindungan, pengingat doa, dan lambang kehadiran Maria di tengah keluarga mereka.[28]

Tali rosario sendiri memiliki makna simbolis, jumlah lima peristiwa dalam setiap rangkaian merefleksikan perjalanan iman melalui peristiwa Gembira, Sedih, Mulia, dan Terang. Ketika umat memegang rosario, mereka mengalami sentuhan simbolis yang menuntun pada meditasi dan kesadaran batin.[29] Gua Maria di lingkungan-lingkungan Paroki Wairpelit menjadi simbol tempat perlindungan rohani, tempat umat datang membawa beban hidup sambil menyalakan lilin dan memanjatkan doa-doa pribadi. Menurut Pino Jebarus bahwa simbol-simbol ini membangun rasa kedekatan umat dengan Maria, menumbuhkan keyakinan bahwa mereka dituntun menuju Kristus melalui teladan hidup Maria. Dengan demikian, simbol-simbol rosario tidak hanya memperindah ritual, tetapi menjadi tanda identitas umat yang mempunyai spiritualitas Marian yang kuat.[30] Simbol ini memperdalam devosi dan memberikan landasan bagi keterlibatan umat dalam kehidupan Gereja.

5.2 Bahasa dalam Doa Rosario

Bahasa doa merupakan unsur yang memberikan struktur dan makna pada devosi rosario. Doa Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan, serta perenungan misteri-misteri rosario membentuk pola komunikasi rohani yang ritmis dan kontemplatif. Di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, umat cenderung menghayati bahasa rosario sebagai bahasa iman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pengulangan Salam Maria misalnya, bukan sekadar repetisi kata-kata, tetapi ritme lembut yang membawa ketenangan batin. Dengan mengulangi sapaan malaikat Gabriel dan pujian Elisabet, umat diperkenankan memasuki misteri kehendak Allah yang dihayati Maria. Bahasa rosario membantu umat membentuk kebiasaan doa yang stabil, menyatukan pikiran dan hati yang sering tercabik oleh kesibukan hidup.[31] Dengan demikian, rosario menjadi instrumen pembinaan rohani yang membentuk cara umat berbicara kepada Allah, merenung, dan berserah.

Selain bahasa verbal, terdapat juga bahasa simbolik dalam narasi peristiwa rosario. Perenungan atas Kabar Sukacita, Penyaliban, Kebangkitan, hingga Peristiwa Terang seperti Baptisan Yesus, menanamkan pemahaman iman secara bertahap. Bahasa meditasi ini membantu umat, baik anak-anak, kaum muda, maupun orang dewasa untuk belajar iman dengan cara yang sederhana namun mendalam. Dengan demikian, bahasa rosario membangun kesadaran batin, memperkuat pemahaman iman, dan memupuk sikap penyerahan diri.[32]

5.3 Partisipasi Umat

Di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, partisipasi umat dalam devosi rosario menjadi cermin hidupnya iman bersama. Keterlibatan ini tampak nyata dalam beberapa bentuk.

Pertama, rosario menjadi doa keluarga. Banyak keluarga di KUB Bunda Allah, membiasakan doa rosario sebelum tidur, pada bulan Maria, atau saat menghadapi persoalan hidup. Melalui doa bersama ini, keluarga menjadi Ecclesia domestica,[33] Gereja Kecil yang menjadi dasar pembinaan iman anak-anak dan tempat berbagi kasih.

Kedua, rosario lingkungan menjadi sarana kebersamaan dan solidaritas. Ketika umat berkumpul di kapela lingkungan atau rumah salah satu umat, mereka tidak hanya berdoa, tetapi juga memperkuat persaudaraan. Peran ketua lingkungan, pemimpin devosi, dan umat yang menyediakan tempat menunjukkan bahwa rosario membangun gotong royong rohani.[34]

Ketiga, keterlibatan kaum muda dalam memimpin rosario atau mengiringinya dengan lagu-lagu rohani menumbuhkan rasa memiliki terhadap Gereja. Hal ini penting bagi regenerasi iman umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit. Partisipasi aktif yang melibatkan multi-generasi menunjukkan bahwa rosario bukan ritual statis, tetapi hidup dalam diri umat.

Keempat, devosi rosario juga menjadi bagian dari kegiatan parokial seperti ziarah, novena, dan doa bersama menjelang misa. Hal ini memperlihatkan bahwa rosario terintegrasi dalam kehidupan liturgis dan pastoral Gereja. Keterlibatan umat ini memiliki implikasi besar: rosario tidak hanya sebagai devosi rutin, tetapi menjadi sarana membangun iman yang hidup, mempersatukan umat, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam kehidupan menggereja.

5.4 Dimensi Kontekstual

Devosi rosario di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya masyarakatnya yang memiliki nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap figur ibu.[35] Maria sebagai Bunda yang lembut dan penuh kasih sangat dekat dengan budaya setempat figur ibu yang melindungi, membimbing, dan menjadi pusat kehidupan keluarga. Maka rosario mudah diterima sebagai bagian spiritualitas yang harmonis dengan budaya.[36]

Konteks sosial umat di KUB Bunda Allah yang bergumul dengan tantangan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan membuat rosario menjadi sarana penguatan batin. Ketika umat menghadapi masalah, doa rosario menjadi tempat bersandar, memohon penyertaan Maria, dan menemukan ketenangan. Di tengah kondisi geografis yang luas dan akses pastoral yang kadang terbatas, rosario menjadi bentuk doa yang dapat dilaksanakan dimana saja di rumah, di ladang, di perjalanan.[37]

Selain itu, perkembangan teknologi membuat umat dapat mengikuti rosario melalui media digital ketika mereka tidak dapat hadir secara fisik. Hal ini menunjukkan kemampuan devosi rosario untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan inti spiritualnya. Dimensi kontekstual ini memperlihatkan bahwa rosario bukan devosi abstrak, tetapi berakar kuat pada realitas hidup umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit..

VI.   ANALISIS DAN INTERPRETASI

6.1 Analisis Teologis

Devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario memiliki kedalaman teologis yang kaya dalam kehidupan Gereja. Dari perspektif simbolik, rosario bukan sekadar rangkaian manik-manik, tetapi penanda keterhubungan umat dengan misteri keselamatan. Setiap butir rosario menjadi simbol perjalanan iman yang bertolak pada Kristus melalui perantaraan Maria. Simbol-simbol ini membantu umat di KUB Bunda Allah, memasuki pengalaman doa yang terarah, teratur, dan kontemplatif. Dalam relasinya dengan teologi sakramen, devosi rosario tidak menggantikan sakramen, tetapi mendukung hidup rahmat yang diterima melalui Ekaristi dan rekonsiliasi. Doa rosario menegaskan kembali peran Maria sebagai Bunda Gereja yang menuntun umat kepada Kristus. Ketika umat merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus mulai gembira, sedih, mulia, dan terang. Mereka memperdalam penghayatan sakramental, terutama dalam memahami inkarnasi, penderitaan, dan kebangkitan Kristus. Dengan demikian, devosi ini menjadi sarana persiapan batin menuju perayaan sakramen.

Dari sisi ecclesiologis, doa rosario memperkuat dimensi kebersamaan Gereja sebagai umat Allah. Keterlibatan umat di KUB Bunda Allah, dalam rosario bersama membangun solidaritas, persaudaraan, dan partisipasi aktif, yang merupakan ciri Gereja sebagai communio. Menurut Abdi Guna Sitepu, Elbina Sipangkar dan Erikson Simbolon bahwa kebiasaan doa bersama ini menghidupkan Gereja domestik dan memperkuat identitas iman komunitas.[38] Aspek inkulturasi juga tampak dalam cara umat Wairpelit menjalankan devosi rosario sesuai budaya lokal, seperti menggabungkannya dengan nyanyian tradisional, bahasa daerah, atau pola persekutuan khas setempat. Inkulturasi ini memungkinkan iman Katolik berakar dalam budaya tanpa kehilangan inti ajarannya. Secara keseluruhan, devosi kepada Bunda Maria melalui rosario memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan rohani umat di KUB Bunda Allah, memperdalam pemahaman teologis, menghidupkan persatuan Gereja, serta memadukan iman dengan budaya lokal.

6.2 Analisis Antropologis

Secara antropologis, devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario di KUB Bunda Allah, membentuk pola interaksi yang khas dalam kehidupan umat. Tasyiana dan Agustinus Supriyadi bahwa doa rosario yang dilaksanakan secara rutin, baik di lingkungan maupun dalam keluarga, menciptakan ruang perjumpaan yang memperkuat solidaritas sosial. Interaksi dalam kelompok doa menumbuhkan relasi yang lebih akrab, saling mendukung, dan memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas gerejani.[39]

Dalam dimensi peran gender, devosi rosario sering memperlihatkan keterlibatan signifikan dari kaum perempuan, baik sebagai pemimpin doa, penggerak kegiatan, maupun penjaga tradisi rohani keluarga. Namun demikian, keterlibatan laki-laki juga tampak dalam bentuk dukungan struktural dan partisipasi dalam doa bersama. Pola ini menunjukkan adanya pembagian peran yang saling melengkapi dalam kehidupan religius umat di KUB Bunda Allah.

Dinamika komunitas tercermin dalam bagaimana devosi rosario mendorong partisipasi lintas usia-anak, remaja, dewasa, dan lansia yang berdoa bersama sebagai satu kesatuan. Kehadiran devosi ini memperkuat identitas budaya iman dan menciptakan ritme hidup religius yang menandai keseharian umat. Dengan demikian, rosario tidak hanya menjadi praktik spiritual, tetapi juga wadah yang membentuk struktur sosial, mempererat hubungan, dan mendukung perkembangan rohani umat di KUB Bunda Allah.

6.3  Analisis Pastoral

            Dari perspektif pastoral, devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario di KUB Bunda Allah memiliki sejumlah kekuatan yang mendukung pembinaan iman. Kekuatan utama terletak pada kedekatan emosional umat dengan Bunda Maria, yang memudahkan mereka memasuki suasana doa dan refleksi. Kebiasaan berkumpul dalam rosario bersama juga memperkuat jaringan relasi pastoral dan membangun solidaritas antarumat. Namun demikian, terdapat pula kelemahan yang perlu diperhatikan. Dalam beberapa kasus, rosario dijalankan secara rutin tetapi kurang disertai pendalaman makna, sehingga berisiko menjadi kegiatan mekanis. Selain itu, partisipasi umat tertentu, terutama kaum muda, masih belum stabil.

            Tantangan pastoral muncul dalam upaya menghadirkan rosario sebagai devosi yang relevan bagi seluruh kelompok usia, sekaligus menyeimbangkannya dengan bentuk pembinaan iman lainnya, seperti pendalaman Kitab Suci dan pelayanan sosial. Tantangan lain adalah memastikan bahwa devosi tidak menggantikan fokus utama pada Kristus, tetapi justru menuntun umat kepada-Nya. Meski demikian, terdapat peluang besar untuk pengembangan pastoral. Melalui pengajaran, kreativitas liturgis, dan model doa yang inklusif, rosario dapat menjadi sarana efektif untuk memperdalam iman, memperkuat komunitas, serta membangun spiritualitas yang lebih matang umat di KUB Bunda Allah.

VII. DISKUSI DAN EVALUASI

7.1 Kesesuaian dengan Norma Liturgi Resmi

Devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario di KUB Bunda Allah perlu dilihat dalam terang norma liturgi resmi Gereja, seperti Sacrosanctum Concilium, Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR), dan berbagai Ordo liturgi. Sacrosanctum Concilium menegaskan bahwa devosi populer memiliki tempat yang sah dalam kehidupan umat, selama devosi tersebut diarahkan untuk memperdalam partisipasi dalam liturgi dan tidak menggantikannya.[40] Dalam konteks ini, rosario menjadi sarana pendukung yang membantu umat memasuki misteri Kristus secara lebih mendalam melalui perantaraan Bunda Maria.

PUMR menekankan bahwa liturgi adalah pusat kehidupan Gereja; oleh karena itu, pelaksanaan rosario di KUB Bunda Allah harus tetap menjaga hubungan harmonis dengan Ekaristi dan ibadat resmi lainnya. Rosario yang dilaksanakan sebelum atau sesudah Misa, atau dalam pertemuan umat basis, mendukung kehidupan liturgis tanpa mengurangi keutamaan sakramen. Dokumen Ordo liturgi juga menekankan keteraturan doa dan keselarasan dengan tahun liturgi.[41] Dengan memperhatikan norma ini, devosi rosario di KUB Bunda Allah dapat dijalankan secara tertib, mendidik, dan memperkaya kehidupan rohani umat, sambil tetap setia pada ajaran dan tata perayaan Gereja.

8.2 Tantangan Pastoral

Dalam konteks umat di KUB Bunda Allah, devosi rosario menghadapi sejumlah tantangan pastoral yang perlu diperhatikan. Tantangan pertama adalah partisipasi umat yang belum merata. Walaupun sebagian umat terlibat aktif, kelompok lain terutama kaum muda masih menunjukkan minat yang rendah, sehingga kontinuitas devosi kurang optimal. Tantangan kedua menyangkut formasi liturgis. Banyak umat telah terbiasa mendaraskan rosario, tetapi belum seluruhnya memahami makna teologis dan relasinya dengan misteri Kristus. Minimnya pendampingan membuat devosi berpotensi dijalankan secara mekanis tanpa pendalaman iman. Menghadapi tantangan ini, Gereja lokal perlu memperkuat pembinaan liturgis, memperkaya bentuk pendampingan rohani, dan mengembangkan metode kreatif agar devosi rosario tetap murni sekaligus relevan bagi seluruh umat di KUB Bunda Allah.

VIII.  KESIMPULAN

8.1 Temuan Pokok

Penelitian mengenai keterlibatan umat dalam devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario di KUB Bunda Allah mengungkapkan sejumlah temuan pokok yang menggambarkan kondisi spiritual umat serta pola keberagamaan mereka dalam konteks pastoral. Secara umum, devosi rosario menempati posisi penting dalam ekspresi iman umat di KUB Bunda Allah. Rosario tidak hanya dipandang sebagai doa tradisional Gereja, tetapi juga sebagai sarana penghiburan, kekuatan batin, dan pembentukan identitas komunitas. Keterlibatan umat terlihat dalam frekuensi doa bersama di lingkungan, rumah-rumah doa, dan keluarga. Umat mengalami kedalaman spiritual melalui ritme doa yang repetitif dan meditasi terhadap misteri-misteri Kristus.

Ada tiga hal yang ditemukan oleh peneliti dalam penelitian ini yakni: Pertama, umat merasakan bahwa doa rosario memperkuat kedekatan mereka dengan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Banyak umat mengatakan bahwa rosario membantu mereka tetap setia dalam kesulitan dan menghidupi harapan kristiani. Kedua, devosi rosario meningkatkan relasi sosial religius di antara umat. Kegiatan doa bersama melahirkan rasa persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian timbal balik. Ketiga, rosario menjadi sarana pendidikan iman yang efektif, meskipun pemahaman teologis umat masih bervariasi. Walaupun banyak umat memahami rosario sebagai doa yang sakral, tetapi tidak semuanya mampu menjelaskan makna teologis dari misteri-misterinya.

8.2 Implikasi Teologis

Secara teologis, devosi rosario menempatkan Maria sebagai figur pendamping dalam perjalanan rohani umat. Rosario membawa umat kepada Kristus melalui mediasi Maria, sesuai ajaran Gereja bahwa Maria selalu mengarahkan umat kepada Putranya. Misteri-misteri rosario merupakan ringkasan Injil yang mencakup inkarnasi, penderitaan, kebangkitan, dan kemuliaan Kristus.[42] Devosi ini membantu umat di KUB Bunda Allah menginternalisasi ajaran iman melalui renungan atas misteri keselamatan. Implikasi teologis yang signifikan adalah bahwa rosario memperkaya pemahaman umat akan hubungan antara doa populer dan liturgi.

Gereja mengajarkan bahwa devosi populer bukan pengganti liturgi, tetapi pelengkap yang membuka hati untuk menerima rahmat sakramen.[43] Di KUB Bunda Allah, rosario membantu umat mempersiapkan diri dengan lebih baik sebelum mengikuti Ekaristi dan memeriksa batin sebelum menerima sakramen rekonsiliasi. Devosi ini memperkuat spiritualitas kontemplatif dan membantu umat hidup lebih menyadari kehadiran Allah dalam keseharian. Selain itu, rosario juga menjadi sarana pemurnian iman. Dalam beberapa kasus, menurut Gregorius Kaha bahwa terdapat pandangan yang terlalu magis atau mekanis terkait rosario. Namun dalam pendampingan yang tepat, devosi ini dapat diarahkan kembali pada makna teologisnya: yaitu merenungkan karya keselamatan Kristus dan meneladani iman Maria.[44]

8.3 Saran Pastoral bagi Gereja Lokal

Bagi Gereja lokal di Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, temuan ini memberikan sejumlah saran pastoral penting. Pertama, perlu ada pendalaman makna teologis rosario melalui katekese dan formasi iman. Pendampingan yang berfokus pada pemahaman misteri-misteri rosario akan membantu umat menghindari pola doa yang mekanis. Katekese dapat dilakukan melalui rekoleksi lingkungan, pelatihan pemimpin doa, dan pembinaan keluarga Katolik.

Kedua, Gereja lokal perlu mengembangkan model devosi rosario yang kreatif dan kontekstual. Misalnya, rosario Kitab Suci, rosario dengan sharing iman, rosario meditasi hening, atau rosario dengan unsur budaya lokal seperti nyanyian tradisional Wairpelit. Dengan kreativitas pastoral, devosi rosario dapat menjadi lebih menarik dan menyentuh berbagai kelompok usia, terutama kaum muda.

Ketiga, perlu ada keseimbangan antara devosi dan liturgi resmi Gereja. Paroki dapat memberikan pedoman jelas mengenai waktu dan tempat pelaksanaan rosario agar tidak mengganggu Ekaristi atau ibadat resmi. Hal ini penting untuk menjaga rosario tetap berada dalam bingkai spiritualitas Gereja yang autentik dan kristosentris.

Keempat, devosi rosario dapat dipadukan dengan aksi pastoral dan karitatif. Misalnya, doa rosario lingkungan yang dilanjutkan dengan kunjungan kepada umat sakit atau kegiatan solidaritas. Dengan demikian, devosi tidak hanya bersifat kontemplatif, tetapi juga mendorong aksi nyata dalam kasih.

Kelima, Gereja lokal perlu meningkatkan pendampingan bagi keluarga sebagai tempat utama pewarisan doa rosario. Pembinaan keluarga Katolik dapat mendorong kebiasaan rosario menjadi bagian dari spiritualitas rumah tangga, sehingga iman diteruskan kepada generasi muda.

8.4 Saran Akademis untuk Penelitian Lanjutan

Guna pengembangan studi mengenai devosi rosario di KUB Bunda Allah, beberapa saran akademis dapat diajukan. Pertama, penelitian lanjutan dapat meninjau perbandingan pola devosi rosario antara Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit dan paroki-paroki lain di wilayah yang berbeda. Hal ini berguna untuk memahami pengaruh budaya terhadap pelaksanaan devosi.

Kedua, studi antropologis lebih mendalam mengenai peran gender, usia, dan struktur sosial dalam devosi rosario akan memberikan wawasan mengenai dinamika komunitas religius. Bagaimana peran perempuan, kaum muda, atau tokoh adat dalam memelihara devosi ini dapat menjadi fokus kajian lanjutan.

Ketiga, penelitian dapat menyoroti bagaimana devosi rosario memengaruhi pembentukan identitas Katolik lokal. Rosario bukan hanya praktik spiritual, tetapi juga simbol sosial-religius yang membentuk cara umat memandang diri sebagai bagian dari Gereja.

Keempat, penelitian teologis dapat menggali lebih jauh relasi devosi rosario dengan liturgi, terutama bagaimana devosi populer menopang partisipasi aktif umat dalam perayaan Ekaristi. Dengan penelitian lanjutan, pemahaman mengenai devosi rosario di Wairpelit dapat semakin mendalam dan berkontribusi bagi pengembangan pastoral serta teologi kontekstual di tingkat lokal maupun lebih luas.

A

Buku dan Jurnal

Agustinus Supriyadi dan Tasyiana. “Manfaat Kegiatan Doa Rosario bagi Perkembangan Iman Anggota Komunitas Doa Rosario Suci Paroki St. Willibrordus Cepu.”  Credendum: Jurnal Pendidikan Agama, Vol. 4, No. 2, November, 2022.

 Ali Ridlwan, Nurma. “Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama,” Jurnal Komunika, Vol. 7, No. 2, Desember, 2013.

 Alida Pinedendib, Stenly Vianny Pondaaga dan Checilia Cindy Jenifer. “Kesatuan Liturgi dan Teologis Perayaan Trihari Suci.” Jurnal Filsafat dan Teologi, Vol. 4, No. 2, September, 2023.

  Anindya Ika Yulia, Luluk Arianti dan Maolinda Saqila. “Peran Agama dalam Pembentukan Identitas Budaya Masyarakat Lokal: Kajian Literatur Sistematis,” Khazanah : Jurnal Studi Ilmu Agama, Sosial dan Kebudayaan, Vol. 1, No. 1, 2025.

Anton Pareira, Berthold. “Menggambarkan Iman Lewat Ikon,” Jurnal Seri Filsafat dan Teologi, Vol. 23, No. 22, 2013.

Deeng, Djefry, Rindyani Katarina Singal dan Maria Heny Pratiknjo. “Tradisi Dan Makna Doa Rosario Bagi Umat Wilayah Rohani Santo Anselmus Pada Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus Xaverius Di Desa Guaan. ” Jurnal Unsrat, Vol. 16, No. 4, Oktober-Desember, 2016.

Deflem, Mathieu. “Ritual, Anti-Struktur, dan Agama: Pembahasan Analisis Simbolik Prosesual Victor Turner.” Jurnal Studi Ilmiah Agama, Vol. 30, No. 1, 1991.

  Djono, Wildhan Ichzha Maulana dan Yusuf Budi Prasetya Santosa. “Urgensi Pendekatan Multidisipliner dan Interdisipliner dalam Lingkup Kajian Sejarah.” Jurnal Chronologia, Vol. 6, No. 2, 2024.

Erikson Simbolon, Abdi Guna Sitepu dan Elbina Sipangkar. “Implementasi Hidup Doa dalam Keluarga Katolik Berdasarkan Dokumen Familiaris Consortio 59-62.” Jetish: Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health, Vol. 3, No. 2, September, 2024.

Gerardus Kormomolin dan Glen Lukas Veerman. “Gelar Maria Sebagai Bunda Allah.” Jurnal Pineleng Theological Review, Vol.2, No. 2, Juli, 2025.

 Konsisli Vatikan II, Konstitusi Tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium Pasal 13, penerj.  R. Hardawiryana. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Konsisli Vatikan II, Konstitusi Tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium Pasal 27, penerj.  R. Hardawiryana. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Lusiana Sihaloho dan Johannes Sohirimon Lumbanbatu. “Devosi Kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario Sebagai Salah Satu Bentuk Pendalaman Iman Para Ibu Katolik.” Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Vol. 3, No. 1, Februari, 2020.

Marioes Eduardus Kakok Koerniantono, Fatima Olita dan Rismaida Hotmaria Sipayung. “Pengaruh Pemahaman dan Partisipasi Umat dalam Doa Rosario,” Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi, Vol. 1, No. 7, Juli, 2021.

Nadya Cindy Audina, Hasby Ash-Shiddiqi dan Riza Wahyuni Sinaga. “Kajian Teoritis: Analisis Data Kualitatif.” Jurnal Edukatif, Vol. 3, No. 2, 2025.

Pasi, Gregorius. “Istilah Rosario: Suatu Metafora.” Jurnal Forum Filsafat dan Teologi, Vol. 52, No. 2, 2023.

Rosalinda Bhoki, Maria. “Penghayatan Doa Rosario dalam Mengembangkan Iman Suster Misionaris Claris Seturut Teladan Hidup Ibu Pendiri Beata Maria Ines.” (Skripsi, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Widya Yuwana Madiun, Madiun)

Rusmanto, Ayub dkk. “Liturgi sebagai Instrumen Gereja untuk Mengupayakan Jemaat mengalami Perjumpaan dengan Tuhan sehingga Bertumbuh Dewasa secara Rohani.” Jurnal Matheteuo, Vol. 3, No. 1, Juni, 2023.

 Soi Leton, Susana dkk. “Peningkatan Partisipasi Umat dalam Kehidupan Menggereja Melalui Kegiatan Keagamaan di KBG Stasi St. Petrus Kolilanang.” Jurnal Pengabdian West Science, Vol. 4, No. 1, Januari, 2025.

Surip Stanislaus, Yohanes Anjar Donobakti dan Repanta Ginting. “Pengaruh Doa Rosario Bagi Para Devosan Maria di Paroki Santa Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Katedral Medan.” Jurnal Filsafat dan Teologi, Vol. 22, No. 1, Januari, 2025.

 Taufik, Muhammad. “Membaca Simbol Dalam Teks Agama dengan Semiotika.” Jurnal Religi  Jurnal Studi Agama-Agama, Vol. 17, No. 01, Januari-Juli, 2021.

  Tesalonika, Martha dkk. “Doktrin Gereja: Eklesiologi.” Jurnal Magistra, Vol. 2, No. 3, September, 2024.

Zakeus Daeng Lio, Ferdinandus Edison Musi dan Wilfridus Samdirgawijaya.“ Praktik Kesalehan Umat Melalui Devosi Kepada Bunda Maria di Stasi Santa Maria Maluhu Paroki St. Pius X Tenggarong.” Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, Vol. 5, No. 2, Juli-Desember, 2021.

Wawancara

Maria selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

S. L selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

M. M selaku umat KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, pada 3 Desember 2025.

S. H selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 2 Desember 2025

L. A selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

 L.F selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

Internet

Admin, “Menggali Makna Sebenarnya dari Rosario,” dalam unika.ac.id pada 17 Oktober 2025, https://-www.unika.ac.id/news/menggali-makna-sebenarnya-dari-rosario/, diakses pada 5 Desember 2025.

Admin, “Sejarah Masuknya Kristen ke Indonesia, Dimulai Sejak Abad ke-16, dalam kumparan.com pada 20 Mei 2021, https://kumparan.com/berita-hari-ini/sejarah-masuknya-kristen-ke-indonesia-dimulai-sejak-abad-ke-16-1vmT8JGDyC2, diakses pada 1 Desember 2025.

Jebarus, Pino. “Mariologi,” (Manuskrip Bahan Kuliah Marialogi Prodi Teologi STKIP St. Paulus Ruteng), hlm. 2. Bahan di muat dalam portal online Scribd, https://id.scribd.com/doc/221759350/mariologi, diakses pada 3 Desember 2025.

Kaha, Gregorius. “Devosi dalam Gereja Katolik,” dalam indocell.net, https://www.indocell.net/-yesaya/pustaka/id547.htm, diakses pada 2 Desember 2025.

Listiati, Ingrid. “Keluarga Kristiani sebagai Ecclesia domestica,” dalam katolisitas.org pada 4 Mei 2011, https://katolisitas.org/keluarga-kristiani-sebagai-ecclesia-domestica/, diakses pada 2 Desember 2025.  

Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae dari Paus Agung Yohanes Paulus II Kepada Para Uskup, Klergi dan Umat Beriman tentang Rosario yang Maha Suci, dalam vatican.va, pada 2002, https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/apost_letters/2002/documents/hf_jp-ii_apl_20021016_rosarium-virginis-mariae.html, diakses pada 06 Desember 2025.

 



[1] Rindyani Katarina Singal, Maria Heny Pratiknjo dan Djefry Deeng, “Tradisi Dan Makna Doa Rosario Bagi Umat Wilayah Rohani Santo Anselmus Pada Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus Xaverius Di Desa Guaan,” Jurnal Unsrat, 16:4 (Manado: Oktober-Desember, 2016), hlm. 2.

[2] Ibid.

[3] Gregorius Pasi, “Istilah Rosario: Suatu Metafora,” Jurnal Forum Filsafat dan Teologi, 52:2 (Malang: Tahun, 2023), hlm. 98.

[4] Ibid.

[5] Yohanes Anjar Donobakti, Repanta Ginting dan Surip Stanislaus, “Pengaruh Doa Rosario Bagi Para Devosan Maria di Paroki Santa Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Katedral Medan,” Jurnal Filsafat dan Teologi, 22:1 (Medan: Januari, 2025), hlm. 98-99.

[6] Hasil Wawancara dengan Marselius Malen, selaku ketua KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit, pada 3 Desember 2025.

[7] Susana Soi Leton, dkk, “Peningkatan Partisipasi Umat dalam Kehidupan Menggereja Melalui Kegiatan Keagamaan di KBG Stasi St. Petrus Kolilanang,” Jurnal Pengabdian West Science, 4:1 (Larantuka: Januari, 2025), hlm. 1-2.

[8] Hasil wawancara dengan Ibu Heldigunda Sulastri selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 2 Desember 2025

[9] Susana Soi Leton, dkk, op cit., hlm. 3.

[10] Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae dari Paus Agung Yohanes Paulus II Kepada Para Uskup, Klergi dan Umat Beriman tentang Rosario yang Maha Suci, dalam vatican.va, pada 2002, https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/apost_letters/2002/documents/hf_jp-ii_apl_20021016_rosarium-virginis-mariae.html, diakses pada 06 Desember 2025.

[11] Ferdinandus Edison Musi, Wilfridus Samdirgawijaya dan Zakeus Daeng Lio, “Praktik Kesalehan Umat Melalui Devosi Kepada Bunda Maria di Stasi Santa Maria Maluhu Paroki St. Pius X Tenggarong,” Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, 5:2 (Samarinda: Juli-Desember, 2021), hlm. 76.

[12] Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae dari Paus Agung Yohanes Paulus II Kepada Para Uskup, Klergi dan Umat Beriman tentang Rosario yang Maha Suci., loc cit.

[13] Johannes Sohirimon Lumbanbatu dan Lusiana Sihaloho, “Devosi Kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario sebagai Salah Satu Bentuk Pendalaman Iman Para Ibu Katolik,” Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, 3:1 (Medan: Februari, 2020), hlm. 1.

[14] Tasyiana dan Agustinus Supriyadi, “Manfaat Kegiatan Doa Rosario bagi Perkembangan Iman Anggota Komunitas Doa Rosario Suci Paroki St. Willibrordus Cepu,”  Credendum: Jurnal Pendidikan Agama, 4:2 (Madiun: November, 2022), hlm. 226.

[15] Ayub Rusmanto dkk, “Liturgi sebagai Instrumen Gereja untuk Mengupayakan Jemaat mengalami Perjumpaan dengan Tuhan sehingga Bertumbuh Dewasa secara Rohani,” Jurnal Matheteuo, 3:1 (Kupang: Juni, 2023), hlm. 44.

[16] Stenly Vianny Pondaaga dan Checilia Cindy Jenifer Alida Pinedendib, “Kesatuan Liturgi dan Teologis Perayaan Trihari Suci,” Jurnal Filsafat dan Teologi, 4:2 (Pineleng: September, 2023), hlm. 140

[17] Fatima Olita, Rismaida Hotmaria Sipayung dan Marioes Eduardus Kakok Koerniantono, “Pengaruh Pemahaman dan Partisipasi Umat dalam Doa Rosario,” Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi, 1:7 (Malang: Juli, 2021), hlm. 224.

[18] Martha Tesalonika dkk, “Doktrin Gereja: Eklesiologi,” Jurnal Magistra, 2:3 (Palangka Raya: September, 2024), hlm.  189.

[19] Wildhan Ichzha Maulana, Yusuf Budi Prasetya Santosa dan Djono, “Urgensi Pendekatan Multidisipliner dan Interdisipliner dalam Lingkup Kajian Sejarah,” Jurnal Chronologia, 6:2 (Surakarta: Tahun, 2024), hlm. 67.

[20] Mathieu Deflem, “Ritual, Anti-Struktur, dan Agama: Pembahasan Analisis Simbolik Prosesual Victor Turner,” Jurnal Studi Ilmiah Agama, 30:1 (Purdue: Tahun 1991), hlm. 5.

[21] Luluk Arianti, Maolinda Saqila dan Anindya Ika Yulia, “Peran Agama dalam Pembentukan Identitas Budaya Masyarakat Lokal: Kajian Literatur Sistematis,” Khazanah : Jurnal Studi Ilmu Agama, Sosial dan Kebudayaan, 1:1 (Mataram: Tahun, 2025), hlm. 47-48.

[22] Muhammad Taufik, “Membaca Simbol Dalam Teks Agama dengan Semiotika,” Jurnal Religi  Jurnal Studi Agama-Agama, 17:01 (Yogyakarta: Januari-Juli, 2021), hlm. 4.

[23] Berthold Anton Pareira, “Menggambarkan Iman Lewat Ikon,” Jurnal Seri Filsafat dan Teologi, 23:22 (Malang: Tahun, 2013), hlm. 270.

[24] Nurma Ali Ridlwan, “Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama,” Jurnal Komunika, 7:2 (Yogyakarta: Desember, 2013), hlm. 1978-1979.

[25] Admin, “Sejarah Masuknya Kristen ke Indonesia, Dimulai Sejak Abad ke-16, dalam kumparan.com pada 20 Mei 2021, https://kumparan.com/berita-hari-ini/sejarah-masuknya-kristen-ke-indonesia-dimulai-sejak-abad-ke-16-1vmT8JGDyC2, diakses pada 1 Desember 2025.

 

[26] Hasby Ash-Shiddiqi, Riza Wahyuni Sinaga dan Nadya Cindy Audina, “Kajian Teoritis: Analisis Data Kualitatif,” Jurnal Edukatif, 3:2 (Pematangsiantar: Tahun, 2025), hlm. 333.

[27] Pino Jebarus, “Mariologi,” (Manuskrip Bahan Kuliah Marialogi Prodi Teologi STKIP St. Paulus Ruteng), hlm. 2. Bahan di muat dalam portal online Scribd, https://id.scribd.com/doc/221759350/mariologi, diakses pada 3 Desember 2025.

[28] Hasil wawancara dengan M.M selaku umat KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Wairpelit, pada 3 Desember 2025.

[29] Admin, “Menggali Makna Sebenarnya dari Rosario,” dalam unika.ac.id pada 17 Oktober 2025, https://-www.unika.ac.id/news/menggali-makna-sebenarnya-dari-rosario/, diakses pada 5 Desember 2025.

[30] Pino Jebarus., op cit, hlm. 4.

[31] Hasil Wawancara dengan Ibu L.S selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

[32] Maria Rosalinda Bhoki, “Penghayatan Doa Rosario dalam Mengembangkan Iman Suster Misionaris Claris Seturut Teladan Hidup Ibu Pendiri Beata Maria Ines,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Widya Yuwana Madiun, Madiun), hlm. 26.

[33] Ecclesia domestica memiliki arti yakni Gereja rumah tangga sebagaimana yang dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik 1656 “…..keluarga-keluarga Kristen itu sangat penting sebagai pusat suatu iman yang hidup dan meyakinkan. Karena itu Konsili Vatikan II menamakan keluarga menurut sebuah ungkapan tua “Ecclesia domestica” [Gereja-rumah tangga] (Lumen Gentium 11, Bdk. Familiaris Consortio 21). Dalam pangkuan keluarga “hendaknya orang-tua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orang-tua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani” bdk. Ingrid Listiati, “Keluarga Kristiani sebagai Ecclesia domestica,” dalam katolisitas.org pada 4 Mei 2011, https://katolisitas.org/keluarga-kristiani-sebagai-ecclesia-domestica/, diakses pada 2 Desember 2025.

[34] Hasil wawancara dengan Bapak A.L selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

[35] Hasil wawancara dengan Oma Maria selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

[36] Glen Lukas Veerman dan Gerardus Kormomolin, “Gelar Maria Sebagai Bunda Allah,” Jurnal Pineleng Theological Review, 2:2 (Pineleng: Juli, 2025), hlm. 196.

[37] Hasil Wawancara dengan Opa F. L selaku umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit pada 3 Desember 2025.

[38] Abdi Guna Sitepu, Elbina Sipangkar dan Erikson Simbolon, “Implementasi Hidup Doa dalam Keluarga Katolik Berdasarkan Dokumen Familiaris Consortio 59-62,” Jetish: Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health, 3:2 (Deli Serdang: September, 2024), hlm.  956.

[39] Tasyiana dan Agustinus Supriyadi., op cit, hlm. 228

[40] Konsisli Vatikan II, Konstitusi Tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium Pasal 13, penerj.  R. Hardawiryana (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 14.

[41] Konsisli Vatikan II, Konstitusi Tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium Pasal 27, penerj.  R. Hardawiryana, ibid., hlm. 19.

[42] Johannes Sohirimon Lumbanbatu dan Lusiana Sihaloho., op cit, hlm. 2-3.

[43] Gregorius Kaha, “Devosi dalam Gereja Katolik,” dalam indocell.net, https://www.indocell.net/-yesaya/pustaka/id547.htm, diakses pada 2 Desember 2025.

[44] Ibid.

Post a Comment for "Pengaruh Devosi kepada Bunda Maria Melalui Doa Rosario terhadap Kehidupan Rohani Umat di KUB Bunda Allah, Paroki St. Yosef Pekerja Wairpelit - Nerapost"