Eksistensi Perempuan Manggarai dalam Budaya Patriarki: Tinjauan Teologi Feminis Kwok Pui-lan - Nerapost
(Sumber gambar: candler.emory.edu)
Oleh: Admin
Masyarakat Manggarai di Flores, Nusa
Tenggara Timur, dikenal sebagai masyarakat yang kaya akan tradisi, nilai
budaya, dan ikatan kekeluargaan yang kuat. Struktur sosial masyarakat Manggarai
dibangun di atas adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun dan masih
dipertahankan hingga saat ini. Dalam kehidupan sosial tersebut, laki-laki
sering ditempatkan sebagai pemegang otoritas utama dalam keluarga maupun komunitas
adat. Sistem budaya yang demikian memperlihatkan karakter patriarki yang cukup
kuat, di mana perempuan kerap berada pada posisi subordinat dalam berbagai
aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, bahkan keagamaan. Kondisi ini
menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana eksistensi perempuan
Manggarai dipahami dan diperjuangkan di tengah dominasi budaya patriarki yang
masih mengakar dalam masyarakat.
Dalam konteks masyarakat Manggarai,
perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan keluarga dan sosial.
Mereka tidak hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan domestik, seperti
mengurus rumah tangga dan mendidik anak, tetapi juga turut bekerja di ladang,
pasar, dan berbagai aktivitas ekonomi keluarga. Namun, besarnya kontribusi
perempuan sering kali tidak diiringi dengan pengakuan sosial yang setara. Dalam
berbagai forum adat, misalnya, perempuan masih memiliki ruang partisipasi yang
terbatas dibandingkan laki-laki. Keputusan-keputusan penting dalam keluarga dan
komunitas adat umumnya ditentukan oleh laki-laki sebagai representasi otoritas
budaya.1
Budaya patriarki yang berkembang dalam
masyarakat Manggarai sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial
dan historis yang telah berlangsung lama. Sistem kekerabatan patrilineal menempatkan
laki-laki sebagai penerus garis keturunan dan pemilik hak atas warisan
keluarga. Akibatnya, perempuan sering dipandang sebagai bagian dari keluarga
suami setelah menikah dan kehilangan otoritas terhadap identitas asalnya. Dalam
situasi demikian, perempuan berada dalam posisi yang rentan terhadap
marginalisasi sosial. Bahkan, dalam beberapa praktik budaya tertentu, perempuan
masih dianggap sebagai pelengkap dalam struktur sosial masyarakat.2
Meskipun demikian, realitas perempuan
Manggarai tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kelompok yang pasif dan
tertindas. Di balik berbagai keterbatasan tersebut, perempuan Manggarai terus
menunjukkan eksistensinya melalui berbagai bentuk perjuangan sosial, ekonomi,
pendidikan, dan keagamaan. Banyak perempuan Manggarai kini terlibat aktif dalam
dunia pendidikan, organisasi sosial, pelayanan gereja, serta berbagai aktivitas
publik lainnya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar
objek budaya patriarki, melainkan subjek yang memiliki kemampuan untuk
membangun perubahan sosial.
Dalam melihat realitas tersebut,
pemikiran teologi feminis Asia yang dikembangkan oleh Kwok Pui-lan menjadi
sangat relevan. Kwok Pui-lan menekankan bahwa pengalaman perempuan Asia harus
dibaca dalam konteks budaya, kolonialisme, kemiskinan, dan struktur patriarki
yang membentuk kehidupan mereka.3 Menurutnya, perempuan Asia
memiliki pengalaman penindasan yang berbeda dengan perempuan Barat karena
mereka hidup dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh tradisi budaya dan agama
yang sangat kuat. Oleh karena itu, pembebasan perempuan tidak dapat dilakukan
hanya melalui pendekatan universal, tetapi harus mempertimbangkan konteks
budaya lokal.
Teologi feminis Kwok Pui-lan menolak
segala bentuk dominasi yang membungkam suara perempuan. Ia mengkritik tradisi
keagamaan dan budaya yang sering kali digunakan untuk melegitimasi subordinasi
perempuan. Dalam perspektifnya, perempuan harus diberikan ruang untuk
menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri, termasuk dalam relasi dengan budaya
dan agama. Pemikiran ini penting untuk memahami situasi perempuan Manggarai
yang selama ini hidup dalam sistem budaya patriarki yang cenderung menempatkan
laki-laki sebagai pusat kekuasaan sosial.
Jika ditinjau dari perspektif teologi
feminis Kwok Pui-lan, perempuan Manggarai sesungguhnya memiliki potensi besar
sebagai agen transformasi sosial. Pengalaman hidup perempuan, termasuk
penderitaan, perjuangan, dan kerja keras mereka, merupakan sumber penting dalam
membangun kesadaran kritis terhadap ketidakadilan gender. Dalam kehidupan
sehari-hari, perempuan Manggarai menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam
menopang kehidupan keluarga. Mereka bekerja di ladang sejak pagi, mengurus
rumah tangga, mendidik anak, bahkan terlibat dalam aktivitas sosial masyarakat.
Akan tetapi, kerja keras tersebut sering dianggap sebagai kewajiban alami
perempuan sehingga kurang memperoleh penghargaan yang layak.4
Perspektif teologi feminis mengajak
masyarakat untuk melihat perempuan bukan sebagai pihak kedua setelah laki-laki,
melainkan sebagai manusia yang memiliki martabat setara. Dalam iman Kristiani,
laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sebagaimana
tertulis dalam Kitab Kejadian 1:27. Oleh sebab itu, tidak ada alasan teologis
yang membenarkan subordinasi perempuan dalam kehidupan sosial maupun keagamaan.
Namun, dalam praktiknya, tafsir budaya dan agama sering kali bercampur sehingga
melahirkan pemahaman yang bias gender.
Di Manggarai, gereja memiliki posisi
yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Gereja bukan hanya lembaga
keagamaan, tetapi juga pusat pembentukan nilai sosial dan budaya. Oleh karena
itu, gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong terciptanya relasi
yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan. Teologi feminis Kwok Pui-lan
memberikan inspirasi agar gereja tidak hanya berbicara mengenai keselamatan
spiritual, tetapi juga menghadirkan pembebasan bagi mereka yang mengalami
ketidakadilan, termasuk perempuan.5
Salah satu persoalan yang masih
dihadapi perempuan Manggarai adalah stereotip budaya yang membatasi ruang gerak
perempuan. Perempuan sering dianggap lebih cocok berada di ranah domestik,
sementara laki-laki dipandang lebih layak menjadi pemimpin publik. Akibatnya,
partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan masih terbatas. Dalam
beberapa kasus, perempuan yang aktif di ruang publik bahkan dianggap melanggar
norma budaya. Padahal, perkembangan zaman menunjukkan bahwa perempuan memiliki
kemampuan yang sama dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.
Selain itu, persoalan kekerasan
terhadap perempuan juga menjadi tantangan serius dalam masyarakat patriarki.
Banyak perempuan mengalami kekerasan verbal, psikologis, ekonomi, bahkan fisik,
tetapi memilih diam karena takut terhadap tekanan sosial dan budaya. Budaya
patriarki sering kali membuat perempuan merasa bahwa penderitaan adalah bagian
dari kewajiban hidup yang harus diterima. Dalam konteks ini, teologi feminis
hadir untuk membangun kesadaran bahwa setiap bentuk kekerasan terhadap
perempuan bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan kehendak Allah.6
Namun demikian, perjuangan perempuan
Manggarai tidak berarti harus menolak seluruh budaya lokal. Teologi feminis
Kwok Pui-lan justru mengajarkan pentingnya melakukan reinterpretasi budaya
secara kritis. Budaya tidak selalu bersifat negatif, sebab di dalamnya juga
terdapat nilai-nilai solidaritas, kekeluargaan, penghormatan terhadap
kehidupan, dan semangat kebersamaan yang sangat berharga. Oleh karena itu, yang
diperlukan bukan penghancuran budaya, melainkan pembaruan cara pandang agar
budaya menjadi lebih manusiawi dan inklusif terhadap perempuan.
Dalam beberapa tahun terakhir,
perubahan sosial mulai terlihat dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Semakin banyak
perempuan memperoleh akses pendidikan tinggi dan terlibat dalam berbagai
profesi publik. Kehadiran perempuan dalam dunia pendidikan, pemerintahan,
organisasi sosial, dan pelayanan gereja menunjukkan adanya transformasi sosial
yang perlahan menggeser dominasi patriarki. Kesadaran mengenai pentingnya
kesetaraan gender juga mulai berkembang, terutama di kalangan generasi muda.
Meski demikian, perubahan tersebut
masih menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai patriarki yang telah mengakar
kuat tidak mudah diubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, dibutuhkan kerja
sama antara keluarga, lembaga pendidikan, gereja, dan masyarakat adat untuk
membangun budaya yang lebih adil terhadap perempuan. Pendidikan gender dan
kesadaran kritis perlu ditanamkan sejak dini agar laki-laki dan perempuan dapat
hidup dalam relasi yang saling menghormati dan setara.
Pada akhirnya, eksistensi perempuan
Manggarai dalam budaya patriarki merupakan realitas yang kompleks. Di satu
sisi, perempuan masih menghadapi berbagai bentuk subordinasi sosial dan budaya.
Namun, di sisi lain, mereka terus menunjukkan daya juang dan kemampuan untuk
bertahan serta menciptakan perubahan. Perspektif teologi feminis Kwok Pui-lan
memberikan landasan penting untuk melihat perempuan sebagai subjek yang memiliki
martabat, suara, dan hak yang setara dalam kehidupan sosial maupun keagamaan.
Perjuangan perempuan Manggarai bukan
sekadar perjuangan untuk memperoleh pengakuan sosial, tetapi juga perjuangan
untuk menghadirkan kemanusiaan yang lebih adil dan bermartabat. Dengan
membangun kesadaran kritis terhadap budaya patriarki, masyarakat Manggarai
dapat menciptakan ruang kehidupan yang lebih inklusif, di mana laki-laki dan
perempuan dapat bekerja sama secara setara dalam membangun komunitas yang
harmonis dan berkeadilan.
Daftar Referensi
- Erb, Maribeth. The Manggaraians: A Guide to Traditional Lifestyles. Singapore: Times Editions, 1999.
- Toda, Damianus. “Budaya Patriarki dalam Kehidupan Masyarakat Manggarai.” Jurnal Sosial Humaniora, Vol. 8, No. 2, 2020.
- Kwok Pui-lan, Introducing Asian Feminist Theology. Sheffield: Sheffield Academic Press, 2000.
- Budiarti, Atik Catur. “Aktualisasi Perempuan dalam Budaya Patriarki.” Jurnal Pamator, Vol. 3, No. 1, 2010.
- Kwok Pui-lan, Postcolonial Imagination and Feminist Theology. Louisville: Westminster John Knox Press, 2005.
- Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

Post a Comment for "Eksistensi Perempuan Manggarai dalam Budaya Patriarki: Tinjauan Teologi Feminis Kwok Pui-lan - Nerapost"