Minimnya Partisipasi Kaum Muda dalam Kegiatan Menggereja – Nerapost
(Sumber gambar: kas.or.id)
Oleh: Belandina Kasih
Minimnya partisipasi kaum muda dalam
kegiatan menggereja menjadi persoalan yang cukup memprihatinkan. Kaum muda merupakan
generasi penerus Gereja. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit dari mereka yang mulai
menjauh dari kegiatan-kegiatan rohani seperti misa, doa lingkungan, Doa
Rosario, pendalaman iman, maupun kegiatan organisasi
seperti Orang Muda Katolik (OMK). Kalau kita perhatikan di lingkungan/paroki yang aktif biasanya orang-orang dewasa
dan orang tua. Sementara kaum muda kadang hanya hadir saat hari besar atau
kalau ada kegiatan tertentu saja.
Salah satu penyebab utama adalah
perubahan gaya hidup generasi muda yang dimana kaum muda sekarang sangat
dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media sosial seperti handphone. Dunia digital menawarkan
hiburan yang cepat, menarik, dan instan. Akibatnya, kegiatan menggereja yang
bersifat formal dan terjadwal sering dianggap kurang menarik. Kaum muda lebih
memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman atau di dunia maya daripada
mengikuti kegiatan rohani.
Selain itu, pendekatan Gereja terhadap
kaum muda terkadang kurang melibatkan mereka secara aktif. Banyak kegiatan
dirancang tanpa memberi ruang bagi kreativitas dan aspirasi/harapan bagi anak
muda. Padahal, jika diberi kesempatan untuk berperan sebagai panitia, pemimpin
doa, pemusik, atau penggagas kegiatan sosial, mereka cenderung menunjukkan
antusias yang tinggi. Perhatian Gereja yang universal/umum terhadap kaum muda
sebenarnya sudah terlihat melalui kegiatan seperti World Youth Day (hari orang muda sedunia) yang digagas oleh Paus
Yohanes Paulus II. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda memiliki tempat istimewa
dalam kehidupan Gereja.
Lebih lanjut, faktor keluarga juga turut memengaruhi jika sejak kecil anak
tidak dibiasakan mengikuti misa atau kegiatan rohani, maka ketika remaja anak
itu akan cenderung dan tidak merasa memiliki keterikatan dengan Gereja.
Kurangnya teladan dari orang tua dapat membuat iman anak hanya menjadi
formalitas, bukan kebutuhan hidup.
Hemat saya, solusi dari persoalan ini bukanlah menyalahkan kaum muda,
melainkan membangun komunikasi yang lebih terbuka antara kaum muda dengan
Gereja. Gereja perlu menghadirkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka,
seperti diskusi tentang isu-isu aktual, pelayanan sosial, atau kegiatan kreatif
berbasis bakat dan minat. Kaum muda juga perlu menyadari bahwa keterlibatan
mereka bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari pembentukan karakter dan
pendewasaan iman.
Minimnya partisipasi kaum muda bukanlah tanda bahwa iman telah hilang, melainkan sinyal bahwa pendekatan perlu diperbarui. Jika Gereja dan kaum muda dapat berjalan bersama, maka kegiatan menggereja tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan menjadi kebutuhan dan keinduan. Kebersaman ini menumbuhkan semangat baru, menghadirkan kreativitas, seta membuat suasana Gereja lebih hidup dan penuh warna.

Post a Comment for "Minimnya Partisipasi Kaum Muda dalam Kegiatan Menggereja – Nerapost"