Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aksara Darah di Antara Langit yang Membisu – Puisi BD

Aksara Darah di Antara Langit yang Membisu – Puisi BD

(Sumber gambar: pngtree.com)


Di bukit sunyi, waktu terhenti,
langit menggantung seperti tanda tanya,
dan kayu salib berdiri
bukan sekadar tiang,
melainkan sumbu dunia yang retak.

Tubuh tergantung di antara dua arah.
Bumi yang menuntut,
langit yang membisu.
Di sana, penderitaan bukan jeritan,
melainkan bahasa purba
yang lupa kita artikan.

Paku-paku itu bukan besi,
melainkan keputusan
tentang kasih yang tak berbalas,
tentang kebenaran yang disalibkan
oleh tangan yang takut cermin.

Darah menetes seperti aksara merah,
menulis kitab yang tak selesai dibaca
,
bahwa luka adalah pintu,
bahwa kehilangan adalah bentuk lain dari hadir,
bahwa kematian bisa menjadi metafora
bagi kehidupan yang lebih luas.

Salib itu sendiri adalah persimpangan.
horizontal
 antara manusia dengan manusia
dan vertikal antara jiwa dengan yang tak terhingga.
Di titik temu itu,
segala pertanyaan berlutut
tanpa jawaban yang pasti.

Dan Ia yang diam di tengah absurditas
tidak melawan paradoks,
tidak memadamkan ironi,
melainkan merangkulnya
sebagai bagian dari misteri yang utuh.

Maka penyaliban bukan akhir,
melainkan simbol retak dalam logika kita,
di mana penderitaan dan cinta
tidak lagi berlawanan,
melainkan saling menjelaskan
dalam bahasa yang hanya bisa dirasakan.

Post a Comment for "Aksara Darah di Antara Langit yang Membisu – Puisi BD"