Paradoks di Kayu yang Sunyi – Puisi BD
(Sumber gambar: hidupkatolik.com)
Di punggung waktu yang rapuh,
sebatang kayu tumbuh menjadi tanda
bukan sekadar kematian,
melainkan pertanyaan yang dipaku
pada daging keabadian.
Ia tergantung di antara makna,
di mana langit menahan napas
dan bumi lupa berdoa.
Kesunyian menjadi saksi,
bahwa penderitaan bukan akhir bahasa,
melainkan awal dari pengertian
yang terlalu dalam untuk diucapkan.
Paku-paku itu menembus lebih dari tubuh,
ia menembus ilusi tentang kuasa,
tentang dunia yang mengira dirinya pusat,
tentang manusia yang takut
melihat wajahnya sendiri di cermin kebenaran.
Darah mengalir seperti waktu yang dilukai,
menulis di udara
bahwa cinta tidak selalu menyelamatkan dari luka,
namun memberi luka makna
yang tak bisa dihancurkan oleh kematian.
Di sana, pada kayu yang sunyi,
paradoks menjadi nyata
yang fana memeluk yang abadi,
yang lemah merangkul yang tak terbatas,
dan kematian membuka pintu
yang tak pernah mampu dijelaskan oleh hidup.
Ia tidak turun dari salib,
bukan karena tak mampu,
melainkan karena cinta memilih tinggal
di titik paling gelap dari keberadaan,
agar tak ada lagi kegelapan
yang benar-benar tanpa terang.
Maka kematian itu bukan lenyap,
melainkan peristiwa retak dalam realitas,
di mana segala logika runtuh perlahan,
dan dari reruntuhannya
lahir sebuah pengertian sunyi,
bahwa yang paling rapuh
justru memegang rahasia keabadian,
dan yang paling menderita
justru membuka jalan pulang
bagi segala yang tersesat dalam diri manusia.

Post a Comment for "Paradoks di Kayu yang Sunyi – Puisi BD"